Selasa, 10 Februari 2009

Ngusaba Ngeed di Pura Agung Besakih










-
Ngusabha Ngeed di Pura Agung Besakih.
Fertility atau ritual kesuburan dan kesejahteraan ! Begitu yang tampak pada prosesi Ngusabha Ngeed yang dilaksanakan pada Purnama Kawolu Senin 9 Februari 2009 di Pura Agung Besakih. Pelaksanaannya di ”bulan-bulan basah” purnama kawolu (januari-februari) dan bersamaan pula dengan pujawali Pura Basukian (sthana Dewa Wisnu – simbol air) setidaknya menunjukkan secara terang bahwa kesuburan bakal datang bila dewa Wisnu sebagai simbol air dan Dewa pemelihara (sthiti) ”turun” ke dunia menyiram bumi, menebar berkah.
Dalam sudut pandang ritual sebagai suatu ”fragmen”, Ngusabha Ngeed disebut sebagai "pernikahan" Ida Bhatara Rambut Sedana dengan Ida Bhatari Sri (merebhu) untuk memelihara siklus kehidupan, regenerasi lewat kesuburan dan membangun kesejahteraan bumi.
Prosesi Ngusabha Ngeed diawali dengan nedunang Ida Bhatara Rambut Sedhana dan Ida Bhatari Sri di Palinggih Pangaruman Agung Pura Penataran Agung Besakih. Dua buah jempana (joli) Ida Bhatara dan Bhatari lalu diusung menuju Pura Manik Mas di ujung selatan kawasan Pura Agung Besakih dan dilakukan upacara pamendak di jaba pura Banua Kawan (linggih Ida Bathari Sri). Pura Manik Mas dipandang sebagai pasucian agung yang mampu ngeseng sarwa cemer (terdapat palinggih Cemara Geseng) dan juga dipandang sebagai inti bibit (manik mas).
Usai ritual dan persembahyangan di pura Manik Mas, dua jempana Ida Bhatara-Bhatari diusung menuju pura Batumadeg di sisi barat laut pura Penataran Agung Besakih yang dalam konsep Catur Lokapala diyakini sebagai sthana Ida Bhatara Wisnu (berbeda dengan konsep pakideh Pura Basukian sebagai Puseh Jagat yang juga disebut sebagai linggih Ida Bhatara Wisnu). Usai pemujaan di ”titik air” prosesi dilanjutkan ke ”titik panas” di pura Kiduling Kreteg yang dalam konsep Catur Lokapala dipandang sebaga sthana Dewa Brahma (panas atau api). Air dan panas dalam pandangan Hindu terhadap alam semesta adalah konsep kesuburan, kelestarian hidup dan siklus air yang menjadi tumpuan daerah agraris dan tropis.
Tahap keempat adalah pemujaan di Pura Penataran Agung seusai pemujaan di Pura Kiduling Kreteg. Pura Penataran Agung Besakih dengan palingggih utama Padma Tiga dipandang sebagai sthana Dewa Siwa dalam tiga perwujudan, yaitu Siwa, Parama Siwa dan Sadha Siwa. Dewa Siwa dalam konsepsi Hindu di Bali dipandang sebagai Ida Hyang Widhi Wasa penguasa alam semesta sehingga dalam ritual Hindu di ”konstruksi” lewat konsep Eka Dasa Rudra, Panca Bali Krama, Tri Bhuwana dan berakhir ke satu titik pemujaan Eka Bhuwana, Sang Hyang Tunggal - Tuhan Yang Maha Esa. Pada prosesi di Pura Penataran Agung, dua jempana Ida Bhatara-Bhatari ditempatkan di palinggih pesamuhan agung dan dilakukan persembahyangan untuk memohon restu Ida Hyang Widhi Wasa.
Prosesi terakhir diselenggarakan di Pura Banua Kawan. Dua jempana Ida Bhatara-Bhatari kembali diusung dari Pura Penataran menuju Pura Banua Kawan. Di pura Banua Kawan ini pralinga (arca) Ida Bhatara-Bhatari dikeluarkan dari jempana dan ditempatkan berjajar di altar palinggih Pesamuan Pura Banua Kawan layaknya sepasang penganten. Ritual dilanjutkan dengan pemujaan dan persembahyangan diakhiri dengan penyerahan tipat-bantal sebagai sarana pemberkatan suatu pernikahan. Upacara dipimpin oleh Ida Pedanda Istri Rai dari Griya Muncan Karangasem.

-
Seluruh prosesi Ngusabha Ngeed dilaksanakan dengan berjalan kaki mengusung jempana dari satu pura ke pura lainnya secara bergantian oleh masing-masing pemaksan yang ada di pura Besakih sehingga seluruh krama Besakih berperan dalam prosesi tersebut. Upacara Ngusabha Ngeed pada Purnama Kawolu Senin 9 Februari 2009 kemarin dimulai sejak jam 18.10 berakhir pada jam 23.46 wita (begitu tercatat di data exif kamera digital saya....).

-
Keterangan Foto (dari atas ke bawah): (1) Nedunang di Palingih Paruman Agung Pura Penataran Agung Besakih. (2) Iring-iringan menuruni tangga Pura Penataran Agung. (3) Pamendak di Jaba Pura Banua Kawan. (4) Pemujaan di Pura Manik Mas. (5) Pemujaan di Pura Batu Madeg. (6) Pemujaan di Pura Penataran Agung. (7) Pralingga Ida Batara Rambut Sedana dan Ida Bhatari Sri di tempatkan di altar palinggih Pesamuhan Pura Banua Kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar