Jumat, 24 April 2009

Upacara 14 - Rsi Bhojana, 21 April 2009

Upacara 14 – Rsi Bhojana, Selasa 21 April 2009

Setelah diselenggarakan upacara Penganyar setiap hari sejak pelaksanaan upacara Ida Bhatara Turun Kabeh, pada hari Selasa 21 April 2009 diselenggarakan upacara Upacara Rsi Bhojana dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih. Upacara Rsi Bhojana mengandung makna sebagai ungkapan rasa terimakasih umat kepada para Sulinggih / pendeta yang telah membimbing dan memimpin penyelenggaraan Karya Tawur Agung Panca Bali Krama lan Ida hatara Turun Kabeh ring Pura Agung Besakih 2009 sehingga berjalan dengan baik dan lancar.
Hadir sebanyak 65 orang pendeta dari yang direncanakan sebanyak 99 orang pendeta yang turut serta dalam proses pelaksanaan upacara Tawur Agung itu dan perwakilan dari setiap wilayah hadir di natar Pura Penataran Agung Besakih untuk secara simbolis menerima "punia" atau persembahan yang antara lain mewakili unsur sandang, pangan dan berbagai perlengkapan pendeta. Hampir sama dengan upacara Ajang Agung, ritual Rsi Bhojana ditutup oleh para pendeta dengan katuran bhojana (makan bersama) yang dilaksanakan di Suci Pura Agung Besakih.
.
Foto 1:
Para Sulinggih melakukan pemujaan dan persembahyangan di natar Pura Penataran Agung Besakih, di depan palinggih Padma Tiga.
Foto 2:
Usai melakukan pemujaan dan persembahyangan, para Sulinggih katuran bhakti bhojana atau rayunan (hidangan) dan makan bersama di Suci Pura Agung Besakih.
Foto 3: Pada pelaksanaan upacara Rsi Bhojana, hadir pula Wakil Gubernur Bali A.A. Puspayoga dan jajaran pemerintahan tingkat propinsi, kabupaten dan kota sebagai unsur guru wisesa.

Jumat, 10 April 2009

Upacara 13 - Ida Bhatara Turun Kabeh



Upacara 13 – Bhatara Turun Kabeh, 9 April 2009
Upacara Ida Bhatara Turun Kabeh yang dilaksanakan hari ini, Wraspati Paing Medagnsia, Kamis 9 April 2009, merupakan upacara berkala di Pura Agung Besakih yang diselenggarakan setiap tahun pada Purnama Kadasa. Biasanya upacara Ida Bhatara Turun Kabeh dilaksanaan berlanjut dengan upacara Tawur Kasanga (Tawur Tabuh Gentuh) pada Tilem Kasanga setiap tahun. Urutan upacaranya lebih sederhana dibandingkan dengan tahun 2009 yang merupakan kelanjutan dari upacara Tawur Agung Panca Bali Krama.
Upacara berkala Ida Bhatara Turun Kabeh, setiap tahunnya, diawali dengan upacara Nuwasen Karya, Ngingsah, Negtegang lan Ngunggahang Sunari, Nedunang Ida Bhatara, Melasti (dilakukan secara bergantian tiap tahun di Tegal Suci dan Toya Esah), Puncak Karya, Pangremek Karya, Nyejer lan Penganyar, dan ditutup dengan upacara Panyineban. Pada pelaksanaan Jkarya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun 2009 yang dirangkai dengan Karya Tawur Agung Panca Bali Krama beberapa prosesi awal sepenuhnya dirangkai sebagai bagian dari Kerya Tawur Agung Panca Bali Krama lanjut kemudian setelah Pangremek Karya Ida Bhatara Nyejer dengan prosesi Penganyar selama 10 hari.
Pada hari ke 11 setelah Pangremek Karya, rangkaian Ida Bhatara Turun Kabeh dimulai dengan upacara Mapepada dan Pamemben pada tanggal 8 April 2009. Esok harinya, Wraspati Paing Medangsia – Kamis 9 April 2009 bertepatan dengan Purnama Kedasa, tibalah pelaksanaan puncak upacara Ida Bhatara Turun Kabeh. Secara garis besar tahap upacara terdiri dari 3 tahap (tigang palet) yaitu tahap satu upacara Ayun Widhi, pemujaan Ida Bhatara Turun Kabeh dilakukan oleh 5 orang Sulinggih yang memuja di Bale Gajah, tahap kedua adalah Ida Bhatara Tedun ke Paselang dengan pemujaan di Bale Paselang dipimpin oleh 2 orang Sulinggih dan tahap ketihga adalah upacara Ajang Agung yang merupakan upacara khusus dilakukan oleh 9 orang Pemangku Pamucuk di Pura Agung Besakih berupa bhakti dan rayunan kepada 9 orang Pemangku Pamucuk bertempat di Bale Agung di sisi timur palinggih Padma Tiga.
Upacara Ida Bhatara Turun Kabeh 9 April 2009 dimulai jam 11.15 wita dengan pemujaan oleh 5 orang Sulinggih di Bale Gajah diakhiri dengan persembahyangan bersama. Prosesi berikutnya adalah Ida Bhatara Tedun ke Paselang berlanjut usai persembahyangan pada jam 13.10 wita, dengan prosesi mengiringkan pralingga Ida Bhatara Pura Agung Besakih dari palinggih Pengaruman Agung menuju palinggih Paselang dengan berkeliling natar pura searah jarum jam (Purawa Daksina) sebanyak 3 kali. Usai dilakukan pemujaan oleh 2 orang Sulinggih, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan naskah Pajejiwan yang berisi pesan tentang alam semesta, kesuburan dan pemberkatan Ida Hyang Widhi Wasa kepada alam semesta beserta isinya. Selanjutnnya penutup prosesi Iad Bhatara Tedun ke Paselang adalah kembali mengiringkan pralingga Ida Bhatara Pura Agung Besakih menuju palinggih Pengaruman Agung. Prosesi Ayun Widhi dan Tedun ke Paselang diiringi pula oleh wewalen (tari, tabuh dan kidung) antara lain, Wayang Lemah, Topeng Sidhakarya, Rejang Dewa, Baris Gede, Gambuh, Gong Gede, dan Kidung yang digelar di natar Jeroan dan natar Bale Pegambuhan Pura Agung Besakih.
Sore hari pada jam 17.45 wita mulai dipersiapkan upacara Ajang Agung di Bale Agung Pura Agung Besakih. Upacara ini hanya dilaksanakan dan dan diikuti khusus oleh Pemangku Pamucuk di Pura Agung Besakih. Upacara ini dapat dikatakan sebagai bagian dari Rsi Yadnya yaitu persembahan kepada penuntun upacara berupa bhakti/sesajen dan rayunan (makanan) kepada 9 orang Pemangku Pamucuk Pura Agung Besakih. Diawali dengan pemujaan yang ditujukan kepada Ida Hyang Widhi yang bersthana di palinggih Ider Bhuwana, ritual Ajang Agung dilanjutkan dengan persembahyangan oleh 9 orang pemangku pamucuk ditutup secara simbolis dengan makan bersama sebagai wujud kebersamaan mereka.
Usai persembahan puncak upacara Ida Bhatara Turun Kabeh 9 April 2009, prosesi selanjutnya adalah Ida Bhatara Nyejer dengan upacara harian berupa Penganyar selama 14 hari dan pada hari ke 15 (24 April 2009) dilaksanakan upacara penutup seluruh rangkaian Karya Tawur Agung Panca Bali Krama lan Ida Bhatara Turun Kabeh dengan upacara Panyineban. Tiga hari sebelum Panyineban, tangggal 21 April 2009 akan dilaksanakan upacara Rsi Bhojana sebagai penghormatan kepada para Sulinggih atau pendeta yang telah memberi tuntunan dan bimbingan selama pelaksanaan Karya.
.
Foto 1: Tari Gambuh Batuan
Foto 2: Topeng Sidhakarya
Foto 3: Murwa Daksina saat prosesi Tedun ke Paselang
Foto 4: Persiapan penataan sesajen dilakukan sejak pagi 9 April 2009 dipimpin langsung oleh Tapini Ida Pedanda Istri Karang dari Griya SIbetan, Karangasem
Foto 5: Ritual Ayun Widhi dipimpin oleh 5 orang Sulinggih yang melakukan pemujaan dari Bale Gajah.
Foto 6: Persembahyangan bersama usai ritual Ayun Widhi. Seluruh natar Pura Penataran Agung Besakih dipenuhi oleh umat yang tangkil saat itu.
Foto 7: Prosesi Ida Bhatara Tedun ke Paselang
Foto 8: Upacara Ajang Agung di Bale Agung dilakukan oleh 9 orang Pemangku Pamucuk Pura Agung Besakih.

Rabu, 08 April 2009

Upacara 12 - Mapepada dan Pamemben

Mapepada dan Pamemben, 8 April 2009
Sebagai rangkaian awal upacara Ida Bhatara Turun Kabeh, hari ini Rabu 8 April 2009 diselenggarakan upacara "Mapepada" yang dilaksanakan sama dengan Mapepada Tawur Agng Panca Bali Krama (24 Maret 2009) yaitu dengan tata cara mengiringkan beberapa jenis binatang mengelilingi natar Pura Penataran Agung Besakih pada arah berlawanan jarum jam (presawya) sebanyak tiga kali yang secara filosofis diartikan sebagai satu prosesi untuk memohon kehadapan Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk berkenan memberikan berkah dan anugerah kepada binatang yang dipergunakan dalam rangakaian upacara Ida Bhatara Turun Kabeh. Upacara Mapepada diakhiri dengan prosesi panglepas prani (dengan sesajen dan tirtha lepas prani) dan nuwek (menyentuhkan senjata Ida Ratu Pande ke tubuh binatang-binatang tersebut)sebagai simbol binatang tersebut telah binasa
Usai upacara Mapepada, binatang-binatang tersebut disembelih di perantenan Pura Agung Besakih dan beberapa bagian digunakan sebagai pelengkap sesajen. Sore hari dilakukan kegiatan Nyoroh Banten atau menata sesajen untuk persembahan Tawur pada keesokan harinya. Kegiatan Nyoroh Banten ini diakhiri dengan ritual Puja Pamemben pada malam hari yang bermakna pernyataan bahwa seluruh upakara/sesajen telah dipersiapkan dan ditata secara lengkap. Upacara Puja Pamemben ini dilakukan oleh Ida Pedanda Gede Pasuruan dari Griya Sibetan, Karangasem.
.
.
Foto 1: Sesaat menjelang prosesi mengiringkan wewalungan yang digunakan dalam prosesi Mapepada.
Foto 2: Prosesi Panglepas Prani berupa pemberkatan wewalungan dengan sesajen dan tirta panglepas prani dan nuwek atau menyentuhkan senjata pusaka Iada Ratu Pande ke tubuh wewalungan (binatang).
Foto 3: Nyoroh banten untuk upacara Ida Bhatara Turun Kabeh seusai upacara Mapepada di Sanggar Tawang natar Pura Penataran Agung Besakih. Tampak Ida Pedanda Istri Karang (kiri) dibantu oleh pengayah istri menata sesajen/banten di Sanggar Tawang Pura Penataran Agung Besakih.

Selasa, 07 April 2009

Dokumentasi 30 Tahun Upacara di Pura Agung Besakih

.







.
Mulai upload lagi!!!
Lebih dari seminggu saya tidak melakukan update di blog ini tapi bukan berarti bahwa kegiatan peliputan atau kegiatan upacara di Besakih seolah terhenti. Usai puncak Karya Tawur Agung Panca Bali Krama, Pura Agung Besakih (dan juga seluruh Bali) menyongsong Nyepi dengan pelaksanan Catur Brata Panyepian, amati geni, amati karya, amati lelanguan dan amati lalungaan.
Suatu hal unik bahwa areal Pura Agung Besakih, saat panyepian, justru tidak diberlakukan ketentuan Nyepi. Jro Mangku Suyasa mengutip tentang ketentuan pelaksanaan upacara di Besakih yang menyebutkan bahwa Pura Agung Besakih ”tan keneng panyepian”. Walau demikian, warga di kawasan hunian desa pakraman Besakih tetap terkena pemberlakuan ketentuan Nyepi sebagaimana dengan daerah lain di Bali.
Ketika seluruh rangkaian Karya Tawur Agung Panca Bali Krama telah selesai digelar ditandai dengan upacara Pangremek Karya pada tanggal 28 Maret 2009, kawasan Pura Agung Besakih tetap bergiat menyongsong upacara Ida Bhatara Turun kabeh yang jatuh pada tanggal 9 April 2009. Selama rentang tersebut, Ida Bhatara tetap nyejer di palinggih Pengaruman Agung dan selama itu pula diselenggarakan upacara setiap hari yang disebut upacara Penganyar. Upacara Penganyar ini dilaksanakan secara merata dan bergiliran oleh Panitia Provinsi Bali, Panitia Lokal Besakih dan Kabupaten / Kota se Bali. Sementara itu, di Suci Pura Agung Besakih, Ida Pedanda Istri dan para pengayah Istri (Tukang Banten) kembali melakukan kegiatan mempersiapkan berbagai jenis upakara/sesajen untuk pelaksanaan upacara Bhatara Turun Kabeh.
Selama rentang waktu upacara Penganyar (Ida Bhatara nyejer) saya hanya beberapa kali saja berkesempatan tangkil ke Besakih untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut. Saya mempercayakan kegiatan dokumentasi kepada panitia lokal karena ritual penganyar adalah bentuk ritual tipikal yang dilaksanakan rutin setiap hari sampai saat pelaksanaan Ida Bhatara Turun Kabeh. Selain itu, di Besakih telah pula saya lengkapi dengan kamera digital (aturan dari IAI Daerah Bali ketika saya masih menjabat sebagai Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Bali) sehingga tidak sepenuhnya tergantung pada teman-teman fotografer yang ada. Bersyukur pula, dua orang sahabat saya Agung Bhawantara dan Maria Ekaristi (
http://jalan-jalan-bali.blogspot.com) amat rajin, hampir setiap hari sempat tangkil ngayah ke Besakih membuat dokumentai foto dan video. Sungguh, amat menyenangkan ketika waktu terasa sempit ada teman yang tulus berbagi tugas sehingga kegiatan pencatatan ritual 10 tahunan ini tidak tercecer (Agung dan Eka, dahat suksma).
Apa yang saya kerjakan selama ketidak hadiran saya di Besakih dalam rentang Penganyar?
Sejak awal persiapan Karya, ada keinginan besar yang ingin saya laksanakan sebagai upaya berbagi dengan umat Hindu yang urati pada ritual keagamaan di tanah Bali, baik yang sempat hadir di Besakih maupun sameton Hindu yang berada di luar Bali yang hanya sempat mengamati saja lewat internet. Tekad saya itu akhirnya terwujud jua. Tanggal 4 April 2009 yang lalu saya berhasil menyelesaikan 15 poster masing-masing ukuran satu triplex (122 x 244 cm) sudah tercetak dan terpasang pada frame yang telah disiapkan (terima kasih untuk Ketut Tunas, OB di kantor IAI Bali yang memasangnya di frame). Esok paginya, mobil pickup dari Besakih tiba di studio saya untuk mengambilnya, (he...he...berhimpitan di mobil pickup) saya ikut ke Besakih lanjut kemudian memasangnya di sisi selatan Wantilan Besakih. Saya harus menyampaikan terima kasih kepada pengayah-pengayah dan prajuru di Besakih yang sigap membantu pemasangan 15 poster tersebut. Agung Bhawantara dan Eka yang sejak pagi sudah menunggu di Besakih, juga Bp Kapolsek Rendang yang memberi "dispensasi" hingga poster itu bisa tiba dan terpasang di Besakih.
Waktu lima hari, sejak Umanis Kuningan 29 Maret 2009, bagi saya amat sesak untuk memilih sedikit foto dari ribuan foto-foto Panca Bali Krama 2009 yang mesti ditata dalam poster tersebut termasuk juga membongkar arsip dokumentasi foto Besakih sejak Eka Dasa Rudra 1979. Walau tampil sebagai sekilas info tentang dokumentasi visual upacara di Pura Agung Besakih rentang 30 tahun, 15 poster tersebut kini telah terpasang secara runut mencakup:

  • Tawur Agung Eka Dasa Rudra 1979, 1 poster (scan dari buku Album Eka Dasa Rudra 1979)
  • Tawur Agung Panca Bali Krama 1989, 1 poster
  • Tawur Agung Candi Narmada, Panca Bali Krama ring Danu dan Tri Bhuwana 1993, 2 poster
  • Tawur Agung Eka Bhuwana 1996, 1 poster
  • Tawur Agung Panca Bali Krama 1999, 1 poster
  • Tawur Agung Panca Bali Krama 2009, 9 poster

Kecuali poster dokumentasi Eka Dasa Rudra 1979, seluruh foto adalah dokumentasi Besakih yang saya buat sejak 1989 hingga sekarang. Beruntung saya masih menyimpan negatif film dan slide dokumentasi tersebut dengan baik sehingga kini bisa terpasang sebagai informasi untuk publik. Dokumentasi 1989 hingga 1999 masih menggunakan media negatif film dan slide (saat itu belum populer pemakaian Kamera Digital) sehingga tidak ada pilihan lain kecuali membeli sebuah Scanner yang bisa digunakan untuk scanning film (ternyata manajemen pustaka amat penting sekaligus tidak murah).

Upacara 11 - Pangremek Karya

Upacara 11 - Pangremek Karya Tawur Agung Panca Bali Krama, 28 Maret 2009.
Puncak upacara Karya Tawur Agung Panca Bali Krama telah usai dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2009. Esok harinya, tanggal 26 Maret 2009, jagat Bali hening menghentikan segala kegiatan untuk menjalankan catur brata panyepian: amati geni, amati karya, amati lelanguan dan amati lelungan. Wraspati Pon Kuningan, Kamis 26 Maret 2009, Bali memasuki tahun Baru Saka 1931 menutup riuh akhir tahun Saka 1930 dengan hening di awal tahun Saka 1931, somya saat kekuatan bhuta kembali pada kekuatan dewa.
Usai Nyepi, rangkaian upacara Panca Bali Krama dan Bhatara Turun Kabeh di Besakih dilanjutkan dengan upacara Penganyar (rutin dilaksanakan setiap hari) hingga tanggal 9 April 2009 saat dilaksanakan puncak upacara Ida Bhatara Turun Kabeh. Masih terkait dengan Tawur Agung Panca Bali Krama 2009, tanggal 28 Maret 2009 dilaksanakan upacara Pangremek Karya Tawur Panca Bali Krama atau lazim juga disebut Tigang Rahina Karya (3 hari setelah puncak upacara) sebagai pertanda bahwa rangkaian upacara Tawur Agung Panca Bali Krama telah usai dilaksanakan. Upacara ini dilaksanakan secara sederhana yaitu dengan melakukan ritual pembakaran unsur-unsur upakara/sesajen (Ngeseng Orti) lalu menguburnya di tempat upakara Bagia Pulakerthi di tengah-tengah areal Genah Tawur (Mendem Bagia Pulakerthi).
Pemujaan upacara Pangremek Karya dilakukan oleh Ida Pedanda Wayahan Bruruan Manuaba dari Briya Buruan, Gianyar yang diakhiri dengan muspa atau persembahyangan bersama oleh seluruh pengayah yang hadir saat itu.