Selasa, 24 Februari 2009

Kampanye dan Karya Panca Bali Krama

Kamis, 19 Februari 2009 BP
Besar, Peran Nilai Budaya Dalam Menjaga Keamanan
UMAT Hindu diharapkan dapat melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara dengan sebaik-baiknya, khususnya dalam rangka menghadapi rangkaian hari raya Galungan, Kuningan dan Nyepi yang bersamaan pelaksanaannya dengan masa kampanye pemilu 2009. Hal tersebut menjadi bahasan utama pertemuan IBG. Agastia anggota DPD RI dengan Kapolda Bali, Irjen. Pol. Drs. T. Ashikin Husien, Selasa (17/2) yang lalu.
Pelaksanaan kampanye pemilu hendaknya tidak mengganggu pelaksanaan upacara bagi umat Hindu, sehingga diperlukan pengaturan jadwal dengan tepat. Malah pada hari-hari tertentu seperti saat upacara melasti, Penampahan Galungan, Galungan, Kuningan, puncak Karya Agung Panca Bali Krama diharapkan tidak ada jadwal kampanye dengan pengerahan massa. Diingatkan pula, pada hari Umanis Kuningan ada upacara di beberapa Pura utama di Bali yang banyak dikunjungi oleh umat Hindu dari seluruh Bali.
Kapolda Bali menyatakan akan melakukan pengamanan dengan sebaik-baiknya sehingga umat Hindu dapat melaksanakan ibadah agamanya, antara lain akan mengatur pelaksanaan kampanye tersebut. Jajaran Polda Bali telah mengindentifikasi dan mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat terjadi akibat waktu yang bersamaan tersebut.
Dalam pembicaraan yang berlangsung lebih dari satu jam itu banyak dibahas tentang ketahanan sosial budaya Bali. Kapolda menyampaikan bahwa Bali dilanda pula oleh berbagai penyakit sosial (patologi sosial), sebagai akibat mobilitas penduduk dan juga aktivitas kepariwisataan. Oleh karena itu Kapolda sepakat bagi pentingnya ketahanan budaya Bali untuk menghadapi berbagai perkembangan yang terjadi, termasuk keterbukaan Bali itu sendiri. Bali hendaknya terus menegakkan nilai-nilai budaya, nilai-nilai moral dan nilainilai keindahan. Modal Bali untuk masa depan adalah pada nilai-nilai tersebut, termasuk bagi kepentingan keamanan Bali itu sendiri.
Di sisi lain IBG. Agastia juga meminta jajaran Polda Bali untuk menaruh perhatian lebih besar bagi peredaran narkoba dan obat-obat terlarang khususnya bagi generasi muda. Kita hendaknya jangan membiarkan generasi muda terjerembab ke dalam kubangan penyakit sosial tersebut, sehingga mereka kehilangan masa depan, dan kita semua kehilangan kader-kader bangsa yang berkualitas. Untuk itu harus ada pengawasan yang ketat pada penyebarannya, termasuk pengawasan pada tersebarnya berbagai tempat tinggal tanpa izin seperti bungalo dan vila di pedesaan, termasuk tersebarnya kafe dan tempat hiburan malam. (r/*)
Sumber Bali Post 19 Februari 2009

Sabtu, 21 Februari 2009

Ngenteg Linggih Pura Manik Mas Besakih


Karya Ngenteg Linggih Pura Manik Mas Besakih, 21 Februari 2009.
Puncak dari seluruh rangkaian Karya Pamelaspas, Mendem Pedagingan lan Ngenteg Linggih ring Pura Manik Mas, Besakih diselenggarakan hari ini Sabtu 21 Februari 2009 sejak jam 09.00 hingga jam 13.00 wita dengan rangkaian utama pemujaan berupa upacara Pangenteg Linggih.
Upacara Pangenteg Linggih hari ini dipilah dalam tiga tahap, yaitu tahap pertama berupa pemujaan Pangenteg Linggih di natar jeroan Pura Manik Mas, selanjutnya dirangkai dengan ritual Ida Bhatara Tedun ke Paselang juga di natar Jeroan lalu ditutup dengan upacara Pedanan di Jaba Tengah. Puncak upacara pemujaan Pangenteg Linggih dipimpin oleh 2 orang sulinggih yang memuja dari Bale Pawedan, yaitu Ida Pedanda Rai Timbul dari Griya Kawi Sunya, Mendoyo, Jembrana dan Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Duaja dari Griya Jelantik Budakeling. Upacara Ida Bhatara Tedun ke Paselang dipimpin oleh 2 orang sulinggih yang memuja di Bale Pawedaan Paselang, yaitu Ida Pedanda Gede Purwa Gautama dari Griya Wanasari, Sidemen, Karangasem dan Ida Pedanda Wayahan Tianyar dari Griya Menara, Sidemen. Upacara Pedanan dipimpin oleh seorang sulinggih yang memuja dari Bale Pawedaan Pedanan di Jaba Tengah Pura Manik Mas, yaitu Ida Pedanda Rai Pidada dari Griya Sengguan, Klungkung.
Pada tiga rangkaian pemujaan puncak upacara Pangenteg Linggih ini dilakukan 2 kali persembahyangan, saat Pangenteg Linggih dan saat Tedun ke Paselang. Persembahyangan diikuti oleh para Jro Mangku Pura Agung Besakih, pemaksan Ulun Kulkul, warga Hindu dan jajaran Pemkab Jembrana, perwakilan Pemprov. Bali, Pemkab dan Pemkot di Bali, dan pamedek lainnya yang hadir di Besakih saat itu.
Secara ringkas, makna yang terkandung dalam rangkaian Pangenteg Linggih berikut Tedun ke Paselang dan Pedanan adalah ungkapan terima kasih dan pernyataan spiritual perihal tuntasnya seluruh kegiatan pemugaran pura dan sejak saat Pangenteg Linggih ini Pura Manik Mas dinyatakan telah berfungsi kembali seperti semula. Ritual Ida Bhatara Tedun ke Paselang dan Pedanan dipandang patut dilaksanakan sebagai satu rangkaian pada upacara Pangenteg Linggih tingkat Utama dimaknai sebagai pelimpahan kesejahteraan dari Ida Hyang Widhi kepada umat manusia. Tedun ke Paselang diartikan turun ke dunia menciptakan kesuburan (di Bale Paselang terdapat simbol purusa-pradana atau Semara-Ratih lalu pralingga Ida Bhatara diiringkan nodya, menyaksikan Mapedanan atau melimpahkan kesejahteraan (dana) di Jaba Tengah Pura Manik Mas. Sebagai pertanda pelaksanaan Pengenteg Linggih tingkat Utama, pada upacara pagi tadi diiringi pula oleh wewalen berupa Topeng, Wayang Lemah dan Gegitan.
Cuaca cerah ketika upacara berlangsung berganti guyuran hujan lebat usai ngalinggihang pralingga Ida Bhatara setelah seluruh rangkaian upacara selesai.
.
Foto 1 (foto sulinggih, dari atas ke bawah):
Ida Pedanda Rai Pidada dari Griya Sengguan, Klungkung, memimpin upacara Pedanan. Ida Pedanda Gede Purwa Gautama dari Griya Wanasari, Sidemen dan Ida Pedanda Wayahan Tianyar dari Griya Menara Sidemen memimpin upacara Tedun ke Paselang. Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Duaja dari Griya Jelantik, Budakeling (latar belakang) dan Ida Pedanda Rai Timbul dari Griya Kawi Sunya, Mendoyo, Jembrana (latar depan).
Foto 2:
Prosesi Nedunang pralingga Ida Bhatara sebagai awal rangkaian Ida Bhatara Tedun ke Paselang.
Foto 3:
Muspa (persembahyangan dilakukan 2 kali, saat Pangenteg Linggih dan Tedun ke Paselang.
Foto 4:
Prosesi Ida Bhatara nodya Pedanan dari Candi Bentar natar jeroan ke Jaba Tengah Pura Manik Mas Besakih.
Foto 5:
Usai seluruh rangkaian upacara, pralingga Ida Bhatara kembali kaliggihang (ditempatkan) di palinggih pengaruman.

Jumat, 20 Februari 2009

Mapepada Ngenteg Linggih Pura Manik Mas Besakih




Mapepada Pura Manik Mas Besakih, 20 Februari 2009.
Kamis 20 Februari 2009, pagi tadi sejak jam 10.20 hingga jan 11.30 wita, sehari sebelum puncak Karya Ngeteg Linggih di Pura Manik Mas Besakih, diselenggarakan upacara Mapepada. Pelaksanaan upacara Mapepada ini tidak berbeda dengan tata cara ritual Mapepada Tawur yang dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2009 lalu yaitu pemujaan oleh Sulinggih, murwa daksina wewalungan dan malepas prani (nuwek) wewalungan. Perbedaannya hanyalah pada pemakaian jenis wewalungan yang pada Mapepada Ngenteg Linggih pagi tadi menggunakan wewalungan (binatang) yang tingkatannya lebih tinggi yaitu 2 ekor kerbau (pada Mapepada Tawur 15 Februari yang lalu menggunakan kambing).
Upacara Mapepada Ngenteg Linggih ini dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Purwa Gautama dari Griya Wanasari, Sidemen, Karangasem. Pelaksanaan Mapepada ini dilaksanakan oleh pemaksan Ulun Kulkul selaku pangempon diikuti pula oleh perwakilan Pemkab Jembrana yang juga berperan selaku pangemong Pura Manik Mas.
.
Usai upacara Mapepada, di natar jeroan Pura Manik Mas dilakukan ritual membuat Bagia Pulakerti diawali oleh Ida Pedanda Gede Purwa Gautama (nasarin bagia) kemudian dilanjutkan oleh pangayah-pengayah tukang banten. Bagia Pulakerthi adalah sarana upakara berbentuk gunungan ditampung dalam satu wadah (bakul) besar berisi berbagai jenis hasil bumi dan unsur alam, antara lain pala gembal, pala gantung, pala rambat, dan pala bungkah, 9 jenis buah kelapa yang melambangkan pangider bhuwana (8 arah penjuru angin dan 1 di tengah) serta unsur-unsur flora lainnya yang mewakili unsur-unsur alam. Bagia Pulakerthi dibuat 2 buah melambangkan purusa-pradhana atau laki-perempuan sebagai representasi unsur kelahiran dan kesuburan. Pada saat Panyineban nanti (akhir rangkaian upacara 26 Februari 2009) upakara Bagia Pulakerthi ini akan di-pendem (ditanam di natar pura sebagai simbol pelestarian dan pengembalian unsur-unsur alam sebagai sumber kehidupan bumi.
.
.
Foto 1: Ida Pedanda Gede Purwa Gautama dari Griya Wanasari, Sidemen, Karangasem, melakukan pemujaan upacara Mapepada Ngenteg Linggih Pura Manik Mas Besakih.
Foto 2: Jro Mangku membawa penuntunan saat prosesi murwa daksina, 3 kali mengelilingi areal pura searah jarum jam (purwa-daksina).
Foto 3: Senjata pangider berbentuk Cakra berwarna merah (tembaga) sebagai pijakan wewalungan di arah selatan (brahma - merah) saat murwa daksina.
Foto 4: Prosesi malepas prani (nuwek - pralina) dilakukan oleh Jro Gede Pande dan pengayah dengan menyentuhkan ujung tombak ke tubuh wewalungan (binatang/kerbau) pertanda wewalungan itu sudah pralina.
Foto 5: Ida Pedanda Gede Purwa Gautama saat melakukan prosesi nasarin Bagia sebagai awal pembuatan upakara Bagia Pulakerthi.
Foto 6: Pemasangan orti di puncak bagia menandakan Bagia Pulakerthi telah selesai dibuat.

Kamis, 19 Februari 2009

Melasti Pura Manik Mas, 19 Februari 2009


Melasti ke Toya Esah Pura Manik Mas Besakih, 19 Februari 2009.
Upacara Melasti terkait dengan Karya Pamelaspas, Mendem Pedagingan dan Ngenteg Linggih di Pura Manik Mas Besakih diselenggarakan pagi tadi, Rabu 19 Februari 2009, jam 10.30 wita. Palelastian dilaksanakan ke Toya Esah (daerah Rendang) ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 10 kilometer atau 20 km pp. Cuaca yang sebelumnya agak terang tiba-tiba diguyur hujan lebat saat perjalanan baru menempuh sekitar 15 menit. Tak ayal, ratusan pengiring pelelastian basah kuyup mundut jempana Ida Bhatara Manik Mas.
Jam 11.50 wita iring-iringan palelastian tiba di lokasi melasti Toya Esah dilanjutkan dengan pemujaan upacara Melasti yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Manu Singaraga dari Griya Taman Sari, Sangkan Gunung, Karangasem. Upacara pelelastian diakhiri dengan persembahyangan bersama oleh seluruh pengiring kemudian meneruskan perjalanan kembali menuju Pura Manik Mas Besakih.
Berbeda dengan perjalanan dari Manik Mas ke Toya Esah yang ditempuh sekitar 1 jam 20 menit, perjalanan kembali ke Pura Manik Mas ditempuh dalam waktu lebih lama, sekitar 2 jam, karena jalan menanjak dan kelelahan akibat perjalanan sebelumnya.
Tiba di Pura Manik Mas sekitar jam 14.05 wita, iring-iringan palelastian berjajar di jaba Pura Manik Mas untuk menerima persembahan upacara pamendak (penyambutan) bersamaan dengan pamendak Ida Bhatara Tirtha Sad Kahyangan. Upacara pamendak ini juga dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Manu Singaraga yang sebelumnya memimpin upacara pemujaan Melasti di Toya Esah.
Upacara Melasti sering diartikan sebagai ritual pamarisudha atau mensucikan berbagai jenis upakara (sarana upacara) yang akan digunakan pada puncak karya agung. Terkait dengan Pura Manik Mas, karya agung tersebut adalah upacara Ngenteg Linggih yang akan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 21 Februari 2009. Tafsir yang lebih dalam tentang upacara Melasti, secara simbolis, adalah melebur mala sekaligus memohon sumber kehidupan. Karena itu upacara Melasti umumnya dilaksanakan ke sumber air sungai (untuk tingkat ritual lebih kecil) atau laut (untuk tingkat ritual lebih besar).
Prosesi Melasti untuk parhyangan di kawasan Pura Agung Besakih terpilah dalam dua jenis, yaitu Melasti terkait dengan upacara Ngenteg Linggih di masing-masing Pura Pakideh (18 pakideh) dan Melasti terkait dengan upacara berkala yang dilakukan di Pura Agung Besakih mulai tingkatan Bhatara Turun Kabeh hingga Eka Dasa Rudra. Melasti terkait dengan upacara Ngenteg Linggih selalu dilaksanakan di Toya Esah sedangkan Melasti terkait upacara berkala dilaksanakan secara bergantian, di Toya Esah pada tahun ganjil dan di Tegal Suci pada tahun genap. Pada tahun ke sepuluh, upacara Melasti dilaksanakan ke Segara Klotok, Klungkung, berjalan kaki menempuh jarak sekitar 90 km pp dalam waktu 3 hari 2 malam.
.
Foto 1:
Iring-iringan pelelastian memasuki kawasan Toya Esah di wilayah Rendang.
Foto 2:
Pemangku Pura Agung Besakih sedang menata jempana dan upakara lainnya di laapan Toya Esah.
Foto 3:
Ida Pedanda Gede Manu Singaraga, dari Griya Taman Sari, Sangkan Gunung, Karangasem, Sulinggih yang memimpin ritual pemujaan Melasti.
Foto 4:
Para Pemangku muspa pada akhir ritual palelastian di Toya Esah.
Foto 5:
Upacara pamendak Ida Bhatara di jaba Pura Manik Mas, bersamaan dengan pamendak Ida Bhatara Tirtha Sad Kahyangan.

Senin, 16 Februari 2009

Tawur, Pamelaspas & Mendem Pedagingan Pura Manik Mas Besakih


Tawur, Pamelaspas dan Mendem Pedagingan Pura Manik Mas Besakih, 16 Februari 2009.
Senin 16 Februari 2009 sejak jam 09.30 wita dilangsungkan upacara Tawur, Pamelaspas dan Mendem Pedagingan di Pura Manik Mas Besakih. Upacara ini dipimpin oleh tiga orang Sulinggih (pendeta), yaitu Ida Pedanda Gede Putra Tembau (Siwa) dari Griya Aan, Klungkung, Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Duaja (Buda) dari Griya Jelantik Budakeling dan Ida Bhujangga Rsi Widyasara (Rsi Bhujangga) dari Griya Patemon Kebon Baler Bale Agung, Negara. Selain dihadiri oleh para Pemangku sajebag Pura Agung Besakih, perwakilan Pemprov. Bali, Pemkab dan Pemkot di Bali dan warga serta perwakilan Pemkab Jembrana (Wakil Bupati dan jajaran terkait) selaku pangemong, upacara itu dihadiri pula oleh warga Besakih terutama pemaksan Ulun Kulkul selaku pangempon Pura Manik Mas. Upacara diiringi pula oleh wewalen berupa topeng Pajegan, Wayang Lemah dan Gegitan.
Upacara diawali dengan pemujaan upacara Tawur oleh tiga orang Sulinggih di Bale Pawedaan dilanjutkan dengan Bhumi Sudha (pabersihan atau pasucian areal pura setelah kegiatan pemugaran) oleh Ida Pedanda Buda dan dilanjutkan dengan pemujaan Pamelaspas (peresmian secara spiritual terhadap bangunan-bangunan palinggih yang telah selesai dipugar). Rangkaian upacara setelah pamelaspas adalah Mendem Pedagingan di masing-masing palinggih dilaksanakan oleh para pemangku disertai oleh para undangan dari perwakilam Pemprov, Pemkab dan Pemkot di Bali. Kehadiran para undangan ini dipandang sebagai unsur Guru Wisesa (pemerintahan) yang secara resmi bersama-sama dengan pamedek lain mengisi fungsi sebagai manusa saksi.
Dengan terus diiringi oleh puja Sulinggih, kidung dan gamelan, unsur pedagingan diiringkan murwa daksina (3 kali berkeliling areal pura searah jarum jam) lanjut kemudian menuju bangunan palingih masing-masing untuk dilakukan prosesi mendem pada lubang yang dibuat di belakang palinggih. Seluruh rangkaian upacara berakhir pada jam 12.30 diakhiri dengan persembahyangan bersama di natar utama mandala Pura Manik Mas Besakih.
.
Foto 1:
Tiga orang Sulinggih yang melakukan pemujaan pada upacara Tawur, Pamelaspas dan Mendem Pedagingan (dari kanan) Ida Pedanda Gede Putra Tembau, Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Duaja dan Ida Bhujangga Rsi Widyasara.
Foto 2:
Meniup sunu (terompet dari kulit kerang) yang dilakukan oleh pengayah sebagai kelengkapan pemujaan oleh Ida Pedanda saat prosesi Tawur.
Foto 3:
Pedagingan diiringkan Murwa Daksina sebelum di-pendem di lubang yang dibuat di belakang masing-masing palinggih.
Foto 4:
Mendem pedagingan di belakang masing-masing palinggih dilakukan oleh para Pemangku dan unsur Guru Wisesa.
.