Senin, 16 Februari 2009

Bali TV Ngayah di Besakih

Minggu, 15 Februari 2009 BP
Pengobatan Gratis Disambut Positif

Ratusan 'Krama' Bali 'Ngaturang Ayah' di Besakih
Amlapura (Bali Post) -

Ngayah sareng Bali TV serangkaian Karya Panca Bali Krama dan Betara Turun Kabeh di Pura Besakih, diikuti ratusan krama Bali, Sabtu (14/2) kemarin. Kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Penataran Agung dan Pura Batu Madeg Besakih, selanjutnya ngayah membersihkan sampah di pelataran dan di kawasan sekitar pura yang terbesar di Bali tersebut. Selain mabersih, juga dilakukan pengobatan gratis untuk masyrakat. Lebih dari 150 warga setempat mengunjungi pos pelayanan kesehatan yang dipusatkan di Pasraman Besakih.
Kegiatan mabersih dimulai dari Pura Batu Madeg lalu ke penataran, tempat parkir dan di sepanjang jalan dan berakhir di depan Pasraman Besakih (200 meter sebelah utara Pura Dalem Puri). Sampah-sampah yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik, dikumpulkan di pinggir jalan lalu diangkut petugas DKP Karangasem.
Sementara di Pasraman Besakih digelar layanan pengobatan gratis untuk masyrakat. Melibatkan 13 dokter dari RS Sanglah, RSU Surya Husada dan dokter secara pribadi ikut ngayah pada kegiatan tersebut. RS Sanglah dan RS Surya Usadha juga mengerahkan sejumlah paramedisnya pada kegiatan tersebut. Kegiatan itu mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Lebih dari 150 warga yang memanfaatkan layanan pengobatan gratis tersebut.
Ketua Panitia, Dewi Martika mengatakan kegiatan ini akan terus berlangsung selama pelaksanaan Karya Panca Bali Krama di Pura Besakih, secara rutin tiap Sabtu dan Minggu. Selain ngayah bersama, terutama bersih-bersih di kawasan Pura Besakih, juga digelar pengobatan gratis bagi para pemangku dan masyarakat di pos layanan pengobatan gratis, Pesraman Besakih.
Ngayah sareng Bali TV yang dimulai Sabtu (14/2) pagi kemarin di kawasan Pura Besakih, Rendang-Karangasem disambut positif Ketua Komisi I DPRD Bali I Made Arjaya dan kalangan dokter dan paramedis RS Sanglah. Ia mengatakan di tengah menurunnya kesadaran masyarakat untuk bergotong royong, perlu ditumbuhkan kembali ngayah sareng-sareng guna membangunkan kembali kesadaran masyarakat bahwa sesungguhnya orang Bali memiliki kultur yang sangat tinggi yang sangat menjunjung kebersamaan.
Karena itu, peran Kelompok Media Bali Post (KMB) membangun kesadaran bersama melalui Ngayah sareng Bali TV di Pura Besakih mesti diikuti bersama komponen masyarakat lain. Teladan kegotongroyongan tersebut mesti dimulai dari atas, gubernur, wali kota, bupati, sampai pejabat paling bawah. 'Marilah kita ikut bersama-sama ngayah sareng untuk menumbuhkan gotong royong menjaga Bali,' harapnya.
Sementara itu, Arjaya beserta istrinya Wawa mengerahkan dua dokter yakni dr. I Made Juli Arsana dan dr. Agus Sawan untuk pelayanan gratis tersebut. Dari tim medis RS Sanglah, menurut Kasubag Humas Dr. IGNA Putra Wibawa, S.H., M.Kn., mengerahkan 28 petugas termasuk lima dokter dan lima paramedis. 'Kami menyambut baik dan mendukung kegiatan ini,' ujarnya. (029/08)
.
Sumber: Bali Post, 15 Februari 2009
.

Minggu, 15 Februari 2009

Mapepada Tawur Pura Manik Mas Besakih

Mapepada Tawur, Pura Manik Mas Besakih, 15 Februari 2009.

Terkait dengan upacara Pamelaspas, Mendem Pedagingan dan Ngenteg Linggih di Pura Manik Mas, Besakih, pagi tadi Minggu 15 Februari 2009 jam 10.15 diselenggarakan upacara Mapepada Tawur. Upacara Mapepada Tawur yang dipimpin oleh Ida Pedanda Wayahan Tianyar dari Griya Menara, Sidemen ini diikuti oleh para Pemangku Pura Agung Besakih, para bhakta, khususnya Pemaksan Ulun Kulkul dan perwakilan dari Pemkab Jembrana selaku pangempon Pura Manik Mas, Besakih.

Upacara Mapepada adalah rangkaian korban suci berbagai jenis binatang (sesuai dengan tingkatan upacara Tawur – pada Pepada Pura Manik Mas menggunakan kambing sebagai wewalungan utama). Binatang tersebut disucikan, didoakan dan diiringkan murwa daksina (berputar 3 putaran arah jarum jam). Usai purwa daksina dilakukan prosesi malepas prani atau pralina dengan cara nuwek yaitu secara simbolis menyentuhkan senjata pajenengan (tombak) ke tubuh binatang tersebut. Secara spiritual, binatang-binatang tersebut dipandang telah menempuh proses yadnya.

Malam hari dilakukan tahap nyoroh bhakti atau menata sesajen yang akan dipersembahkan pada upacara Tawur besok, Senin 16 Februari 2009. Pada sesaji inilah bagian-bagian tubuh (kepala, kaki dan kulit) binatang tersebut, yang disembelih di tempat terpisah dan bukan bagian proses upacara, digunakan sebagai sarana pokok, menjadi alas komponen sesajen. Keseluruhan sesajen inilah disebut sebagai ritual winangun urip atau tatanan upakara agar roh binatang-binatang tersebut meningkat pada status hidup spiritual yang lebih tinggi dari sebelumnya (hal ini agaknya terkait dengan kepercayaan reinkarnasi atau punarbhawa dan karma phala).
.
Foto 1:
Prosesi menjelang Murwa Daksina pada upacara Mapepada Tawur Pura Manik Mas Besakih.
Foto 2:
Sekeha gong pengayah istri Pemaksan Ulun Kulkul.
Foto 3:
Prosesi Malepas Prani atau Nuwek dengan menyentuhkan senjata pajenengan ke tubuh binatang wewalungan.
.

Jumat, 13 Februari 2009

NGABEN !!!

Batas waktu pelaksanaan upacara pengabenan:
Guna mendukung kesucian karya ini dianjurkan sepanjang memungkinkan untuk melaksanakan pengabenan bagi yang punya sawa mependem, dengan batas waktu untuk pengabenan masal/ngewangun selambat-lambatnya sampai dengan tgl. 13 Pebruari 2009 sudah selesai dilaksanakan. Sedangkan bagi yang meninggal setelah batas waktu tersebut masih diberikan kesempatan pelaksanaan pengabenan kedadak hingga batas waktu selambat-lambatnya tanggal 20 Pebruari 2009.
Setelah tanggal 20 Pebruari 2009 sampai dengan selesainya upacara mejauman tanggal 27 April 2009, hendaknya tidak melaksanakan kegiatan pembakaran mayat baik dalam bentuk upacara pengabenan maupun makingsan di geni.
.
Bila ada yang meninggal setelah tanggal 20 Pebruari 2009 diatur sebagai berikut :
  1. Bila dimungkinkan untuk dipendem (dikubur) hendaknya secepatnya melaksanakan upacara penguburan. Perjalanan ke setra dilaksanakan pada sore hari setelah matahari terbenam. Tata cara dan upacara mendem sawa mulai dari nyiramang dan seterusnya berlaku sebagaimana biasa. Hanya saja tidak menyuarakan kentongan banjar, dengan maksud agar krama banjar tidak ikut terkena cuntaka. Anggota keluarga terdekat serta tetangga bersebelahan serta orang-orang lain yang ikut aktif dalam melaksanakan upacara mendem sawa tersebut terkena cuntaka. Batas waktu cuntaka sesuai dengan dresta setempat. Setelah berakhirnya batas waktu cuntaka diperkenankan untuk ikut dalam rangkaian Karya Agung Panca Bali Krama dan Bhatara Turun Kabeh, dengan terlebih dahulu melaksanakan upacara pebersihan diri (matirtha).
  2. Bila yang meninggal adalah Sulinggih (dwijati), Pemangku atau mereka yang menurut dresta tidak boleh dipendem, diperkenankan untuk nyekeh sawa di rumah masing-masing. Tata cara nyekeh sawa pada dasarnya dilaksanakan sebagaimana biasa dengan ketentuan : bagi yang masih berstatus welaka tidak sampai munggah Tumpang Salu. Sedangkan bagi Sulinggih (dwijati) dapat dilanjutkan sampai munggah Tumpang Salu.

.

Penting!! Untuk umat Hindu se Indonesia

Nunas Tirta Pangandeg lan Pamarisudha
.
Untuk turut menjaga kesucian Karya Agung Panca Bali Krama, seluruh umat Hindu (yang berada di Bali maupun di luar Bali) diminta untuk turut mendukung pelaksanaan rangkaian upacara Nuwasen Karya dan Nunas Tirta Pangandeg lan Pamarisudha yang akan dilaksanakan pada:
.
Hari : Buda Wage Warigadean
Tanggal : 25 Pebruari 2009
Upacara : Nuwasen Karya dan nunas Tirta Pangandeg lan Pamarisudha
Tempat : Di Pura Dalem Puri Besakih.
.
Nunas Tirtha Pangandeg lan Pemarisudha ini akan dilaksanakan bertempat di pura Dalem Puri Besakih, selanjutnya tirta tersebut dibagikan kepada seluruh umat Hindu, khususnya yang ada di daerah Bali. Tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
.
a. Sekitar jam 10.00 Wita, perwakilan dari masing-masing desa Pakraman, Kecamatan, Kabupaten/Kota datang ke pura Dalem Puri Besakih, dengan membawa upakara berupa Peras Pejati, Canang Sari dan Segehan, lengkap dengan 2 (dua) bumbung bambu sebagai tempat tirtha, yaitu:
  1. Sebagai tempat Tirta Pangandeg, dihias dengan daun andong, kain Putuh Kuning, andel-andel. (berisi tulisan / pipil Tirta Pangandeg).
  2. Sebagai tempat Tirta Pamarisudha, dihias dengan daun andong, kain putih kuning, andel - andel dan tedung. (berisi tulisan / pipil tirta pemarisudha)

b. Setelah tiba di tempat masing-masing, tirtha dipendak dengan segehan, kemudian dilinggihkan di pura Dalem. Untuk mencukupi semua umat di wilayah itu, tirtha dapat ditambahi dengan air bersih/toya anyar secukupnya.

c. Masing-masing umat Hindu yang ada di wilayah tersebut mohon tirtha Pemarisudha sampai di pura Dalem dengan menghaturkan canang sari, untuk dipercikkan di sanggah/merajan, pekarangan rumah dan semua anggota keluarga.

d. Bagi yang masih memiliki keluarga/jenasah yang belum di aben, agar memercikkan pula tirtha Pangandeg tersebut di setra/tempat jenasah dikubur, dengan terlebih dahulu menghaturkan upacara sbb:
  1. Di pura Dalem dan Prajapati : menghaturkan sodan putih kuning dan canang sari, dengan permohonan agar Ida Bhatara Dalem dan Prajapati berkenan menganugrahkan kesucian dan pamarisudha sehingga tidak menodai kesucian karya yang akan dilaksanakan.
  2. Di setra/tempat jenasah dikuburkan menghaturkan tipat pesor, nasi angkeb, pangkonan putih kuning asagi. Dengan permohonan agar sang pitara tidak mengganggu jalannya upacara yang akan dilaksanakan.
    Batas waktu untuk nyiratang tirtha pemarisudha ini selambat-lambatnya tanggal 28 Pebruari 2009 sudah selesai dilaksanakan.
-------------------------------------------------------
Penting !!! Bagi umat Hindu di luar Bali.
Permohonan tirtha pemarisudha tersebut dapat dilakukan melalui tempat suci yang ada di wilayah masing-masing dengan sarana upakara berupa peras pejati. Pemangku mohon tirtha pemarisudha dihadapan palinggih yang ada, kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam Ista Dewata sebagai Bhatara Siwa. Selanjutnya dibagikan kepada seluruh umat dengan tata cara seperti tersebut diatas, dan bentuk upakaranya dapat disesuaikan dengan kondisi setempat.
-----------------------------------------------------

Kamis, 12 Februari 2009

Paruman Panitia PBK - 12 Feb 2009

Paruman Panitia Karya Panca Bali Krama 2009.
Kamis 12 Februari 2009, sejak jam 10.00 hingga jam 12.10, diselenggarakan Paruman (rapat pleno) Panitia Karya Panca Bali Krama 2009 di Wantilan Kesari Warmadewa Pura Agung Besakih. Rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota Panitia Karya, Pemangku Pakideh dan Catur Lawa di Pura Agung Besakih dan perwakilan dari kabupaten & kota se Bali dipimpin oleh Ketua Umum Panitia Nyoman Yasa (Sekprov. Bali) didampingi oleh Ketua Pelaksana Karya Wayan Gunatra (Bendesa Desa Pakraman Besakih).
Dalam pertemuan yang membahas persiapan masing-masing bidang di kepanitiaan disampaikan pula dasar tuntunan susastra perihal pelaksanaan Karya Agung Panca Bali Krama yang disampaikan oleh Yajamana Karya Ida Pedanda Gede Putra Tembau dari Griya Aan, Klungkung. Dijelaskan oleh Ida Pedanda, sebagaimana telah tertulis dalam buku Yasa Kerti, Karya Agung Panca Bali Krama dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali, yaitu pada Tilem Caitra (Tilem Kesanga) ketika tahun Saka berakhir dengan nol (Rah Windu). Upacara Panca Bali Krama untuk tahun Saka 1930 ini akan jatuh pada hari Rabu Paing Kuningan, tanggal 25 Maret 2009. Karya Agung Panca Bali Krama yang pada intinya adalah pelaksanaan dari Bhuta yajna dan Dewa yajna yang bermakna untuk menyucikan alam semesta menuju tatanan yang harmoni. Untuk itu semestinya seluruh umat Hindu melaksanakan Yasa Kirti, sebagai perwujudan dari pelaksanaan Tapa-Brata-Yoga, pengendalian diri, pemusatan dan penyucian pikiran. “Jangan sampai dikendalikan oleh pikiran, perkataan dan perilaku yang tidak patut sehingga tujuan untuk membangun kesucian justru berbalik akan menebar mala” demikian dipesankan oleh Ida Pedanda.
Ritual Melasti
Selain persiapan upakara dan upacara yang akan ditangani dan dibahas secara khusus oleh para Sulinggih dan Pemangku, ritual Melasti ke segara Klotok, Klungkung menjadi pembahasan penting terkait dengan jalur palelastian yang melewati lebih dari 30 Desa Pakraman di dua kabupaten, Klungkung dan Karangasem yang ditempuh berjalan kaki selama 3 hari 2 malam.
Ritual Melasti akan diselenggarakan tanggal 21, 22 dan 23 Maret berangkat dari Besakih menuju Klotok kemudian kembali dari Klotok iring-iringan akan menginap semalam di Pura Penataran Agung (di Sengguan, Klungkung). Keesokan harinya berangkat menuju Besakih melalui jalur Desa Paksebali, simpang katuran pamendak di Pura Tohjiwa lalu melanjutkan perjalanan melalui jalur Sidemen dan menginap semalam di Pura Puseh Tebola, Sidemen , Karangasem.
Tanggal 23 Maret iring-iringan berangkat menuju Pura Besakih melalui jalur desa Selat melewati Toya Esah lalu setelah memasuki kawasan Besakih akan katuran Mesandekan dan Pamendak Alit di Pura Pasimpangan Besakih lanjut kemudian menuju Pura Penataran Agung Besakih. Setiba di bancingah (halaman depan) Pura Penataran Agung Besakih akan dilakukan persembahan Pamendak Agung bersamaan dengan Pamendak Ida Bhatara Tirtha dari Sad Kahyangan Bali, Gunung Semeru, Gunung Agung dan Gunung Rinjani (prosesi Nuwur Ida Bhatara Tirtha di kawasan suci tersebut dilakukan oleh pengayah lain sehari sebelum ritual Melasti dan setibanya di Besakih akan ditempatkan sementara di Sanggar Tawang Pura Basukian).

.
Pileg, antara Dharma Agama dan Dharma Negara.
Tak hanya masalah spiritual saja yang dibahas dalam paruman pagi tadi. Kegiatan politik berupa keramaian kampanye menjelang hajatan pencontrengan pileg diharapkan hening sejenak pada puncak Karya Agung Panca Bali Krama 25 Maret 2009. Pada saat puncak karya itu semua parhyangan tingkat desa , dadya hingga tempat suci rumah tangga di seluruh Desa Pakraman di Bali diminta untuk turut mendukung kesucian karya, bersama-sama ngertiang kerahayuan jagat dengan menghaturkan upakara tingkatan Daksina Pejati, Sodan Putih Kuning, Canang Sari dan Canang Yasa selengkapnya.
Saat hari H pencontrengan pileg, tanggal 9 April 2009, bertepatan dengan Purnama Kadasa yang merupakan hari pelaksanaan upacara Bhatara Turun Kabeh di Besakih (juga Ngusabha Kadasa di Pura Batur). Ribuan umat Hindu, sejak pagi hingga malam, akan datang ke Besakih dalam rangka melaksanakan ritual Bhatara Turun Kabeh yang dilaksanakan di Pura Penataran Agung Besakih dan juga ritual yang dilaksanakan di semua Pura Pedharman di kawasan Pura Agung Besakih. Bagi umat yang hanya melakukan persembahyangan tentu bisa mengatur waktu setelah atau sebelum kegiatan pileg namun bagi pelaksana karya di semua pura Pakideh, Pedharman dan Penataran Agung di kawasan Besakih kecil kemungkinan untuk ikut memilih di rumah mereka. Karena itu, diusulkan agar KPUD Bali mempertimbangkan penetapan TPS khusus di Besakih …. sejenis mobile TPS ;-) Iya...., biar dharma agama berjalan beriring dengan dharma negara.
.
Nuwasen 25 Februari 2009.
Setelah diskusi berbagai hal terkait pelaksanaan karya, termasuk peningkatan pelayanan infrastruktur untuk kenyamanan pamedek (jalan, parkir, sirkulasi, toilet, dll), paruman ditutup oleh Ketua Umum dengan menekankan agar dilakukan pertemuan oleh masing-masing bidang untuk memantapkan tugas sehingga sejak tanggal 25 Februari 2009,saat dilaksanakan upacara Nuwasen Karya, hingga Panyineban nanti 27 April 2009 seluruh komponen panitia telah siap melaksanakan tugas masing-masing.
_______________
Foto 1:
Paruman Panitia Karya Agung Panca Bali Krama dan Bhatara Turun Kabeh Pura Agung Besakih 2009, tanggl 12 Februari 2009 dipimpin oleh Ketua Umum Nyoman Yasa (Sekprov. Bali) didampingi oleh Ketua Pelaksana Wayan Gunatra (Bendesa Desa Pakraman Besakih).
Foto 2:
Rapat dihadiri seluruh anggota Panitia dan Pemangku di kawasan Pura Agung Besakih.
Foto 3:
Tidak hanya lembaga adat, paruman dan kepanitiaan melibatkan unsur kepolisian (Polsek Rendang dan Polres Karangasem) untuk mengatur kelancaran sirkulasi kendaraan dan keamanan selama karya.
____________________
Acara paruman diliput juga oleh TVRI (Mudita) dan teman-teman dari jalan-jalan-bali.blogspot.com (Agung & Eka, salut atas niat untuk terus meliput PBK 2009)
.